Ebook Soft Selling: Strategi Jitu Jualan & Closing Halus

Kuasai ebook soft selling, panduan lengkap cara soft selling yang elegan. Pelajari teknik closing tanpa memaksa dan strategi copywriting soft selling di sini!

Ebook Soft Selling: Panduan Lengkap Jualan Tanpa Maksa

Pernah nggak sih, lagi asyik scrolling tiba-tiba muncul iklan yang maksa banget? “BELI SEKARANG! DISKON 90% HARI INI SAJA!” Rasanya pasti langsung skip, kan? Zaman sudah berubah. Audiens sekarang makin pintar dan makin anti sama yang namanya hard selling. Mereka capek ‘dijuali’ terus-menerus. Nah, di sinilah konsep ebook soft selling masuk sebagai pahlawan. Ini bukan cuma soal jualan, tapi soal membangun jembatan kepercayaan.

Di dunia yang bising ini, jualan dengan cara halus dan edukatif jadi kunci pemenangnya. Kita nggak lagi teriak-teriak di pasar, tapi berbisik memberi solusi di telinga yang tepat. Artikel ini adalah panduan lengkap, anggap saja seperti sebuah ‘kitab’ atau ebook soft selling digital, yang akan membongkar tuntas gimana caranya jualan santai tapi closing kencang. Kita akan bahas tuntas framework ebook soft selling dari A sampai Z.

 

Kenapa Metode Ebook Soft Selling Penting Banget Hari Gini?

Dulu, jualan itu ibarat berburu. Siapin senjata (iklan), tembak langsung ke target (konsumen). Kalau kena, syukur. Kalau nggak, ya cari target lain. Tapi sekarang, jualan itu lebih mirip berkebun. Kita siapkan lahannya, kita tanam bibitnya (konten), kita sirami (interaksi), baru kita bisa panen (penjualan). Metode ebook soft selling adalah panduan berkebun paling efektif saat ini.

Kenapa jadi penting banget? Karena hard selling itu ibarat pestisida. Mungkin cepat membunuh hama, tapi merusak tanah (kepercayaan) dalam jangka panjang. Sebaliknya, ebook soft selling adalah pupuk organik yang bikin ‘tanah’ bisnis kita makin subur. Konsumen datang bukan karena terpaksa, tapi karena mereka percaya kita punya solusi terbaik untuk masalah mereka.

Perubahan Perilaku Konsumen Milenial dan Gen Z

Kita harus sadar, generasi yang pegang dompet sekarang (Milenial dan Gen Z) itu ‘alergi’ sama iklan. Mereka lebih percaya rekomendasi teman, review jujur, atau influencer yang relate dengan mereka. Mereka nggak mau didikte; mereka mau diedukasi. Di sinilah peran konten edukasi untuk jualan jadi sangat vital.

Mereka akan melakukan riset mendalam sebelum membeli. Mereka akan membandingkan, membaca ulasan, dan mencari nilai lebih. Ebook soft selling memahami ini. Metode ini fokus memberikan nilai dan edukasi dulu, baru jualan kemudian. Kita memposisikan diri sebagai teman yang ahli, bukan penjual yang memaksa.

Membangun Kepercayaan dan Loyalitas Jangka Panjang

Orang beli dari siapa? Dari orang yang mereka percaya. Hard selling mungkin bisa menghasilkan satu kali transaksi, tapi jarang banget menghasilkan loyalitas. Beda cerita dengan ebook soft selling. Karena fokusnya adalah memberi solusi dan edukasi, kita secara perlahan membangun status ‘ahli’ di mata audiens.

Ketika mereka akhirnya siap membeli, siapa yang pertama kali muncul di kepala mereka? Tentu saja kita, si ahli yang selama ini sabar memberi value. Ini bukan lagi soal jual-beli putus. Ini soal membangun komunitas, fans, dan pelanggan setia yang akan kembali lagi, bahkan merekomendasikan kita ke orang lain.

Soft Selling vs Hard Selling: Bedanya Apa Sih?

Biar makin jelas, ayo kita bedah sedikit. Hard Selling itu fokusnya ke produk. “Produk saya paling bagus, fiturnya A, B, C. Beli sekarang!” Pendekatannya mendesak, sering pakai diskon besar sebagai pancingan utama, dan tujuannya closing saat itu juga.

Sedangkan soft selling, yang kita bahas dalam kerangka ebook soft selling ini, fokusnya ke konsumen. Dimulai dengan pertanyaan, “Apa masalah kamu? Apa yang kamu butuhkan?” Kita jualan solusi, bukan fitur. Pendekatannya konsultatif, pakai cerita (storytelling) dan empati. Tujuannya adalah closing di waktu yang tepat, saat konsumen sudah siap.

 

Fondasi Utama: Memahami Psikologi di Balik Ebook Soft Selling

Untuk jago main soft selling, kita nggak cukup tahu tekniknya. Kita harus paham ‘kenapa’ teknik itu berhasil. Intinya ada di psikologi manusia. Kabar baiknya, prinsip-prinsip ini sudah ada sejak lama dan terbukti manjur. Ebook soft selling adalah tentang menerapkan prinsip psikologi ini secara etis dan elegan.

Memahami apa yang menggerakkan manusia untuk mengambil keputusan adalah inti dari kesuksesan jualan. Kita nggak memanipulasi, tapi kita memahami dan merespons kebutuhan emosional dan logika mereka. Ini adalah fondasi dari seluruh strategi soft selling yang akan kita bangun.

Prinsip Resiprositas (Memberi Dulu, Menerima Kemudian)

Ini prinsip klasik. Manusia itu punya kecenderungan alami untuk membalas budi. Kalau kita diberi sesuatu secara gratis, apalagi bernilai, kita akan merasa ‘nggak enakan’ kalau nggak memberi sesuatu kembali. Dalam konteks bisnis, “sesuatu kembali” itu bisa berupa alamat email, waktu untuk mendengarkan, atau bahkan pembelian.

Penerapan dalam ebook soft selling sangat jelas: berikan value di depan. Bisa berupa tips gratis, checklist, webinar, atau artikel mendalam (seperti ini!). Jangan pelit ilmu. Saat kita tulus memberi, audiens akan tulus mempertimbangkan tawaran kita nanti.

Social Proof (Orang Lain Suka, Saya Mungkin Juga)

Manusia adalah makhluk sosial. Kita sering melihat orang lain untuk memvalidasi keputusan kita. “Kalau banyak yang pakai, pasti bagus.” “Kalau si A yang ahli merekomendasikan, pasti oke.” Ini yang disebut social proof atau bukti sosial.

Dalam panduan soft selling ini, social proof adalah senjata utama. Tunjukkan testimoni yang jujur. Tampilkan studi kasus. Sebutkan berapa banyak orang yang sudah terbantu dengan solusi kita. Biarkan pelanggan kita yang ‘menjual’ produk kita lewat cerita sukses mereka.

Otoritas (Menjadi Si Ahli yang Dipercaya)

Orang lebih mendengarkan saran dari figur yang dianggap ahli atau punya otoritas. Dokter, profesor, atau praktisi yang sudah berpengalaman. Tugas kita dalam menerapkan ebook soft selling adalah membangun otoritas ini. Caranya? Lewat konten edukasi untuk jualan.

Bagikan pengetahuan, analisis, dan pandangan unik. Tunjukkan bahwa kita benar-benar paham industri dan masalah audiens. Saat kita konsisten memberikan konten berkualitas, audiens akan secara alami melihat kita sebagai ‘si ahli’. Saat si ahli memberi rekomendasi (produk), mereka akan lebih mudah percaya.

 

Langkah Awal: Menyiapkan Amunisi untuk Strategi Soft Selling

Sebelum perang, kita butuh senjata. Sebelum menerapkan strategi soft selling, kita butuh amunisi. Amunisi di sini bukan brosur diskon, tapi pemahaman mendalam soal pasar dan nilai unik yang kita tawarkan. Tanpa persiapan ini, ebook soft selling secanggih apapun nggak akan efektif.

Banyak yang gagal di soft selling karena mereka malas di tahap persiapan. Mereka langsung membuat konten tanpa tahu untuk siapa dan kenapa. Jangan sampai seperti itu. Mari kita siapkan fondasi yang kokoh.

Riset Target Audiens (Penting Banget!)

Ini adalah langkah nol yang sering dilompati. Kita nggak bisa jualan ‘halus’ kalau kita nggak tahu siapa yang kita ajak bicara. Siapa mereka? Apa goals terbesar mereka? Apa masalah paling pusing yang mereka hadapi tiap malam? Di mana mereka nongkrong online?

Gali sedalam-dalamnya. Buat ‘persona’ audiens. Semakin spesifik, semakin baik. Mengetahui ini akan membantu kita membuat copywriting soft selling yang terasa personal dan ‘ngena’ banget. Kita jadi tahu ‘bahasa’ apa yang harus dipakai dan ‘rasa sakit’ apa yang harus kita tawarkan obatnya.

Menentukan Value Proposition yang Nggak Bisa Ditolak

Value proposition adalah janji kita kepada konsumen. Ini jawaban dari pertanyaan, “Kenapa saya harus beli dari kamu, bukan dari tetangga sebelah?” Dalam ebook soft selling, value proposition ini harus super jelas, tapi disampaikan secara halus.

Fokuslah pada hasil akhir, bukan cuma fitur. Misalnya, jangan jual “Sepatu lari dengan teknologi bantalan terbaru.” Jual “Lari 10K pertamamu tanpa lecet di kaki.” Lihat bedanya? Yang satu bicara fitur, yang satu bicara mimpi (hasil). Inilah inti dari value proposition yang kuat.

Membangun ‘Lead Magnet’ (Pancingan Bernilai)

Ingat prinsip resiprositas? Lead magnet adalah wujud nyata dari prinsip itu. Ini adalah sesuatu yang super bernilai yang kita berikan GRATIS, sebagai ganti data kontak mereka (biasanya email). Lead magnet ini adalah pintu gerbang dari strategi ebook soft selling kita.

Bentuknya bisa macam-macam: mini ebook, checklist, template, webinar, atau video course singkat. Syaratnya: harus spesifik menyelesaikan satu masalah kecil tapi penting bagi audiens. Ini adalah wujud pertama dari konten edukasi untuk jualan yang kita berikan.

 

Menguasai Cara Soft Selling dalam Praktik Nyata

Oke, amunisi sudah siap. Sekarang kita masuk ke medan perang. Bagaimana cara soft selling yang elegan dan efektif? Kuncinya ada di komunikasi. Kita harus mengubah mindset dari ‘menjual’ menjadi ‘membantu’. Ini adalah inti dari ebook soft selling dalam praktiknya.

Ini adalah seni. Butuh latihan agar terdengar natural. Tapi begitu dikuasai, dampaknya luar biasa. Kita tidak lagi mengejar-ngejar pelanggan, tapi pelanggan yang akan datang bertanya.

Bercerita (Storytelling) yang Bikin Hanyut

Otak manusia terprogram untuk merespons cerita. Fakta dan data itu penting, tapi ceritalah yang diingat dan dirasakan. Gunakan cerita untuk mengilustrasikan masalah dan solusi. Ceritakan kisah sukses pelanggan (studi kasus). Ceritakan founder story kenapa bisnis ini ada.

Saat kita bercerita, ‘dinding pertahanan’ audiens akan runtuh. Mereka nggak merasa sedang dijuali, mereka merasa sedang diajak berpetualang. Dalam copywriting soft selling, cerita adalah bumbu penyedap utama yang membuat pesan kita ‘tertelan’ dengan mudah.

Seni Bertanya, Bukan Mendikte

Hard selling itu mendikte: “Kamu butuh ini.” Soft selling itu bertanya: “Apa yang sedang kamu hadapi saat ini?” Saat kita bertanya, kita menunjukkan empati. Kita memberi sinyal bahwa kita peduli dengan masalah mereka, bukan cuma dompet mereka.

Pertanyaan yang tepat akan membimbing audiens untuk menyadari masalah mereka sendiri. Dan ketika mereka sadar, mereka akan mencari solusi. Di saat itulah kita hadir. Ini adalah teknik soft selling klasik yang sangat ampuh, terutama saat interaksi satu lawan satu (misalnya di DM atau chat).

Fokus pada Manfaat (Benefit), Bukan Fitur (Feature)

Ini kesalahan umum. Penjual terlalu cinta sama produknya, jadi yang dibahas fiturnya melulu. “Kamera 200MP,” “Bahan katun 30s,” “Software dengan AI.” Audiens nggak peduli dengan itu. Mereka peduli: “Apa untungnya buat saya?”

Selalu terjemahkan fitur menjadi manfaat.

  • Fitur: Kamera 200MP.
  • Manfaat: Abadikan momen liburan dengan hasil sejernih kristal, layak cetak besar.
  • Fitur: Bahan katun 30s.
  • Manfaat: Tetap adem dan nyaman walau dipakai seharian di cuaca panas.

Metode ebook soft selling selalu mengedepankan manfaat.

Menggunakan Bahasa yang Membangun Koneksi Emosional

Jualan adalah transfer emosi. Keputusan pembelian itu 80% emosional, baru 20% dirasionalkan dengan logika. Gunakan bahasa yang membangkitkan emosi positif. Gunakan kata-kata yang ‘terasa’ (rasakan, bayangkan, nikmati).

Alih-alih bilang, “Software ini akan menghemat waktu,” coba bilang, “Bayangkan, sore ini kamu bisa pulang lebih cepat dan main sama anak-anak karena kerjaan beres pakai software ini.” Bahasa yang emosional adalah inti dari copywriting soft selling yang berhasil.

 

Copywriting Soft Selling: Menulis Teks yang Menjual Tanpa Terlihat Menjual

Kalau soft selling adalah strateginya, copywriting adalah taktiknya. Copywriting soft selling adalah seni merangkai kata yang membimbing audiens secara halus menuju keputusan pembelian, tanpa mereka merasa dipaksa. Ini adalah implementasi langsung dari kerangka ebook soft selling dalam bentuk tulisan.

Lupakan kata-kata bombastis. Lupakan capslock dan tanda seru berlebihan. Kita akan bermain dengan empati, cerita, dan psikologi.

Judul (Headline) yang Mengundang, Bukan Memaksa

Judul adalah gerbangnya. Di hard selling, judulnya sering “DISKON BESAR!” atau “BELI SEKARANG!”. Di copywriting soft selling, judulnya lebih mengundang rasa penasaran atau menawarkan solusi atas sebuah masalah.

Contoh judul soft selling: “Cara Mudah Mengatasi Insomnia Tanpa Obat Tidur” atau “Rahasia Dapur Koki: Bikin Steak Seenak Restoran di Rumah.” Judul ini fokus pada ‘apa yang kamu dapatkan’ (solusi), bukan ‘apa yang harus kamu lakukan’ (beli).

The Problem Agitate Solve (PAS) Formula

Ini adalah formula copywriting klasik yang sangat cocok untuk soft selling.

  • Problem (Masalah): Tunjukkan masalah yang dihadapi audiens. “Susah banget ya, cari waktu buat olahraga di tengah kesibukan kerja?”
  • Agitate (Gelisahkan): Perburuk masalahnya sedikit. Sentil emosinya. “Akhirnya badan gampang capek, berat badan naik, dan jadi gampang stres.”
  • Solve (Solusi): Tawarkan solusi (produk/jasa kita) sebagai jalan keluarnya. “Untungnya, ada program 15-Minute Workout kami yang dirancang khusus untuk kamu yang super sibuk.”

Formula PAS ini sangat efektif dalam kerangka ebook soft selling karena berawal dari empati terhadap masalah konsumen.

Call to Action (CTA) yang Halus tapi Ngena

Call to Action (CTA) adalah perintah untuk audiens. Hard selling CTA-nya: “BELI SEKARANG!”. Soft selling CTA-nya lebih variatif dan tidak mengancam. Fokusnya adalah ‘langkah kecil berikutnya’.

Contoh CTA soft selling: “Pelajari lebih lanjut di sini,” “Dapatkan checklist gratisnya,” “Coba demonya,” atau “Lihat cerita sukses lainnya.” CTA ini terasa aman, tidak meminta komitmen besar (uang) secara langsung. Ini adalah bagian dari teknik closing tanpa memaksa.

 

Implementasi Ebook Soft Selling di Berbagai Platform

Metode ebook soft selling ini fleksibel. Bisa diterapkan di mana saja kita bertemu audiens. Yang penting, prinsipnya tetap sama: edukasi, empati, dan value. Namun, tiap platform punya karakternya sendiri. Mari kita lihat cara adaptasinya.

Memahami nuansa tiap platform akan membuat strategi soft selling kita makin tajam. Kita nggak bisa pakai gaya bahasa yang sama di email dan di TikTok, kan?

Soft Selling di Media Sosial (Instagram, TikTok, Facebook)

Media sosial adalah tempat orang mencari hiburan dan koneksi, bukan belanja (awalnya). Jadi, ini adalah arena sempurna untuk ebook soft selling. Gunakan format storytelling. Bagikan tips dan trik (konten edukasi). Tampilkan behind the scene.

Di Instagram, gunakan carousel untuk edukasi atau Reels untuk cerita. Di TikTok, gunakan tren untuk menyampaikan konten edukasi untuk jualan secara ringan. Di Facebook, bangun komunitas di grup. Porsi jualannya? Mungkin 1 dari 5 konten. Sisanya? Edukasi dan interaksi.

Email Marketing (Nurturing, Bukan Spamming)

Email adalah aset paling berharga dalam ebook soft selling. Kenapa? Karena ini adalah jalur komunikasi pribadi. Setelah dapat email dari lead magnet, jangan langsung ‘dihajar’ promo. Lakukan nurturing (merawat).

Kirimkan email series yang isinya cerita, tips lanjutan, atau studi kasus. Bangun obrolan. Tanyakan masalah mereka. Setelah 3-5 email nurturing yang penuh value, barulah kita sisipkan penawaran secara halus. Email adalah tempat terbaik mempraktikkan copywriting soft selling jangka panjang.

Content Marketing (Blog dan Artikel SEO)

Seperti artikel yang sedang kamu baca ini. Blog adalah cara membangun otoritas. Saat orang mencari solusi di Google dan menemukan artikel kita yang lengkap dan membantu, kita otomatis dapat poin ‘ahli’. Ini adalah implementasi panduan soft selling yang paling fundamental.

Di dalam artikel, kita bisa sisipkan link ke lead magnet atau studi kasus produk kita secara natural. Ini adalah konten edukasi untuk jualan yang bekerja 24/7 untuk kita.

 

Teknik Closing Tanpa Memaksa: Kunci Sukses Ebook Soft Selling

Ini dia bagian yang paling ditunggu. Closing! Banyak yang jago di awal (edukasi), tapi bingung pas mau closing. Takut dibilang jualan, takut merusak hubungan baik yang sudah dibangun. Padahal, closing adalah bagian alami dari proses membantu.

Jika kita yakin produk kita adalah solusi terbaik, maka menawarkan solusi itu adalah sebuah keharusan. Teknik closing tanpa memaksa adalah tentang membuat audiens mengambil keputusan, bukan kita yang memutuskan untuk mereka. Ini adalah puncak dari metode ebook soft selling.

Memberikan Opsi, Bukan Ultimatum

Manusia suka merasa punya kontrol. Jangan pernah memojokkan calon pembeli. Alih-alih bilang, “Jadi beli atau nggak?” coba berikan opsi yang sama-sama menguntungkan kita.

Contoh: “Kalau lihat kebutuhan kamu tadi, sepertinya paket A atau paket B ini paling cocok. Paket A lebih hemat, tapi paket B fiturnya lebih lengkap untuk jangka panjang. Kamu lebih nyaman mulai dari yang mana?” Ini adalah teknik soft selling yang memberi mereka ilusi kontrol, padahal kita mengarahkan mereka untuk membeli.

The Feel, Felt, Found Method untuk Keberatan

Saat audiens bilang, “Mahal banget,” jangan defensif. Gunakan empati. Ini adalah teknik soft selling klasik untuk menangani keberatan.

  • Feel: “Saya paham banget apa yang kamu rasakan…” (Tunjukkan empati).
  • Felt: “Banyak pelanggan saya yang awalnya merasa begitu juga…” (Validasi perasaan mereka, tunjukkan mereka tidak sendiri).
  • Found: “Tapi, yang mereka temukan setelah pakai produk ini adalah…” (Tunjukkan value atau hasil yang ternyata lebih besar dari harganya).

Metode ini efektif meluluhkan keberatan tanpa harus berdebat.

Menangani Keberatan dengan Empati

Anggap keberatan (objection) bukan sebagai penolakan, tapi sebagai permintaan informasi lebih lanjut. “Saya pikir-pikir dulu,” itu seringkali artinya “Saya belum yakin value-nya.” “Saya tanya suami/istri dulu,” itu artinya “Saya butuh validasi.”

Tugas kita bukan memaksa, tapi menggali. “Boleh tahu, kira-kira bagian mana yang bikin kamu paling ragu?” Dengarkan jawabannya, dan berikan solusi atau klarifikasi. Ini adalah inti dari cara soft selling di tahap akhir.

 

Mengukur Keberhasilan Ebook Soft Selling (Bukan Cuma Soal Angka)

Bagaimana kita tahu metode ebook soft selling kita berhasil? Tentu, penjualan akhir adalah metrik utama. Tapi karena ini adalah strategi jangka panjang, kita nggak bisa cuma lihat angka penjualan harian. Ada metrik lain yang lebih penting di awal.

Fokus pada metrik ini akan membantu kita tahu apakah ‘kebun’ kita tumbuh subur atau tidak. Ini adalah bagian evaluasi dari panduan soft selling yang kita jalankan.

Engagement Rate (Seberapa ‘Nyambung’ Mereka?)

Lihat jumlah likes, comments, shares, dan saves di konten kita. Apakah orang-orang merespons? Apakah mereka bertanya? Engagement yang tinggi menunjukkan konten edukasi untuk jualan kita ‘ngena’ dan relevan. Ini adalah indikator awal bahwa metode ebook soft selling kita ada di jalur yang benar.

Kualitas Lead yang Masuk

Berapa banyak orang yang download lead magnet kita? Dan dari yang download, berapa banyak yang membuka email kita? Lihat Open Rate dan Click-Through Rate (CTR) di email. Ini menunjukkan seberapa berkualitas lead yang kita tarik. Lead berkualitas lebih penting daripada jumlah lead yang banyak tapi nggak tertarik.

Tingkat Konversi Jangka Panjang (Loyalitas)

Ini adalah buah manis dari ebook soft selling. Lihat berapa banyak pelanggan yang melakukan pembelian berulang (repeat order). Berapa banyak pelanggan baru yang datang dari rekomendasi (referral)? Ini adalah bukti nyata bahwa kita tidak hanya berhasil menjual, tapi berhasil membangun kepercayaan dan loyalitas.

 

Prompt ChatGPT Untuk Soft Selling

Metode ebook soft selling pada dasarnya adalah pergeseran mindset. Kita berhenti menjadi pemburu yang agresif, dan mulai menjadi petani yang sabar. Kita fokus membangun aset jangka panjang: kepercayaan dan otoritas. Kita jualan dengan memberi value, bukan dengan memberi diskon.

Prompt bikin kerangka (outline) eBook

text
Buatkan outline eBook berjudul ‘Soft Selling untuk [nama bisnis/industri]’ yang mencakup pengertian, manfaat, teknik, contoh kasus, dan tips praktis. Sertakan minimal 5 bab dengan subtopik di setiap bab.

Prompt nulis bab pengertian & dasar soft selling

text
Jelaskan pengertian soft selling dengan bahasa santai & mudah dipahami, lalu tambahkan mengapa pendekatan ini penting di industri [nama industri, misal: skincare online shop].

Prompt bikin contoh copy soft selling

text
Buatkan contoh kalimat atau copywriting soft selling untuk promosi produk [nama produk] di Instagram, yang terasa natural & nggak maksa, tapi tetap menarik minat beli.

Prompt bikin tips praktis

text
Beri 10 tips praktis untuk pemilik [jenis bisnis] supaya mereka bisa menerapkan soft selling dalam komunikasi sehari-hari, baik di chat maupun di sosial media.

Prompt bikin studi kasus

text
Buatkan contoh studi kasus singkat tentang bisnis kecil yang berhasil meningkatkan penjualan dengan teknik soft selling, lengkap dengan masalah awal, langkah-langkah yang diambil, & hasil akhirnya.

Prompt bikin ringkasan atau kesimpulan eBook

text
Tuliskan kesimpulan yang mendorong pembaca untuk mulai menerapkan soft selling, dengan kalimat motivasional & ajakan bertindak (call to action).

Prompt bikin judul eBook yang catchy

text
Berikan 5 ide judul eBook yang menarik untuk topik soft selling, khususnya untuk audiens [misal: online shop owner, freelancer, UMKM].

Prompt riset target pasar

text
Jelaskan siapa saja target pasar potensial untuk jasa pembuatan eBook soft selling custom, termasuk karakteristik, kebutuhan, dan masalah utama mereka.

Prompt analisis kompetitor

text
Identifikasi dan jelaskan siapa saja kompetitor di bidang jasa pembuatan eBook custom atau konten soft selling, apa keunggulan & kekurangan mereka, dan bagaimana cara membedakan layanan saya dari mereka.

Prompt ide pengembangan layanan

text
Berikan 5 ide pengembangan layanan tambahan yang bisa melengkapi bisnis pembuatan eBook soft selling custom supaya bisnis saya makin menarik di mata klien.

Prompt bikin caption promosi

text
Buatkan 5 caption Instagram/TikTok untuk mempromosikan jasa pembuatan eBook soft selling custom, dengan nada santai & memancing curiosity audiens online shop atau UMKM.

Prompt bikin email marketing

text
Tulis draft email penawaran jasa pembuatan eBook soft selling custom kepada pemilik online shop, dengan nada ramah & mengedepankan manfaat layanan.

Prompt bikin konten edukasi

text
Buatkan ide-ide konten edukasi media sosial yang bisa saya pakai untuk membangun personal branding sebagai penyedia jasa pembuatan eBook soft selling custom.

Prompt bikin proposal penawaran jasa

text
Tulis draft proposal singkat untuk menawarkan jasa pembuatan eBook soft selling custom kepada calon klien UMKM, lengkap dengan penjelasan layanan & manfaatnya.

Prompt bikin template brief klien

text
Buatkan template pertanyaan untuk klien supaya saya bisa mengumpulkan informasi yang dibutuhkan sebelum mulai mengerjakan eBook soft selling custom mereka.

Prompt bikin SOP kerja

text
Susun SOP (Standard Operating Procedure) sederhana untuk alur kerja jasa pembuatan eBook soft selling custom, mulai dari terima order sampai serah terima hasil akhir.

Prompt bikin sistem harga

text
Berikan rekomendasi bagaimana cara menyusun sistem harga yang fleksibel untuk jasa pembuatan eBook soft selling custom, agar bisa melayani klien kecil maupun besar.

Jualan dengan cara soft selling mungkin terasa lebih lambat di awal, tapi hasilnya jauh lebih kokoh dan bertahan lama. Kita tidak hanya mendapatkan pembeli, tapi kita mendapatkan penggemar. Di era digital yang penuh kebisingan ini, suara yang paling didengar adalah suara yang paling tulus membantu. Dan itulah inti dari ebook soft selling.

Selanjutnya : Produk Print on Demand: Panduan Lengkap Bisnis POD

Table of Contents